KingSpec 2.5 sata III 6 GB/S SATA3 240 GB 480 GB 1 TB SSD interne disque dur Disque Dur SSD disque Solide State Drive

551g, Wholesale acer aspire 5720z

Wholesale Acer 5720

250gb 500gb 1t 2t. Lenovo y450. Cq58 650 655. Hp envy 17 câble hdd. Display port sony. Dv5 dv6 dv7-1000 dv7-2000. 70*100*7mm. Hp 8540 p. Flex 14 flex 15Wholesale 1537 dell. Vpceg vpc-eg vpc-f11mfx. K56 k56c k56cm k56ca. B40 b40-30 b40-45 b40-70. L505. Ps3110. N53s n53j n53d n53sv. Hp z6100 91. 

Imac Pcie

Cr15 cr32. Wholesale aspire 5542. Pen,rectangle,stick. 800 go - 1,5 to. Dell inspiron 11z. Zheino. Asus a3500l. 530u3c 535u3c 540u3c 532u3c 531u3c 532u3x 530u3b. Wholesale sony sel1855. 5.25" optical bay. Dell inspiron 15 7559. Acer aspire 7720z. Net weight: 

Usb Refroidisseur D'ordinateur Portable

E5 e5-571 e5-571g. Y70 y70-70. Silver aluminum case + white cable. 5555 5558 5559. 9550 hdd câble. 720 4520 4320 4420. U24 u24e p24. Ssd pour asus ordinateur portable. Sata 320g hard drive/disco duro externo. 960 m. Tactile ordinateur portable hp. Application: Vpc-ee pcg-61611m. Mk8115/inic6081. X450 x450c x450v x450jf a450c. Fil sata. Auto bad block management in system. M100 m105. Hp pavilion dv6700. 

Lenovo Thinkpad Edge D'empreintes Digitales

Wholesale câble ruban lcd. V5-551g v5-551 v5-551-8401. Svs13 svs131 svs13a100c2.5 usb 3. 17r n7110. Vgn fw vgn-fw. Disques durs disque sataii. P3 120gb. Mini 10 1011 1010 1012. 1310 1320. P3-512. Imac pcie. Nb200 nb200-10q1551. Sata disque dur portable. Dv7t dv6t dv6-7000 dv7-7000. 


ed:tumblelog" /><"http://namasayakinsi.tumblr.com/page/8" />

when you find people that speak in the same wavelength as yours, keep them around. because while small talks tire you out, real conversations heal.

—sepuluh/365.

Fiksi punya banyak fungsi. Tidak nyata, tapi menggambarkan realita. Hasil rekayasa, tapi kadang lebih jujur dari berita. Dibatasi jumlah kata, tapi memfasilitasi kebebasan.

—lima/365.

sebelas:sebelas - Pendengar*

“Damar? Untuk Profil Musisi bulan Mei? Yakin, Mbak? YAKIN?”

“Kenapa? Damar kan good-looking.”

“Masa alasannya karena ganteng doang…”

“Hahaha engga kok. Dia kan udah lama ga ada kabar. Siapatau lagi ngerjain album baru.”

“Mencurigakan…”

“Ini lho. Kemaren gue denger di radio salah satu lagu dia dari albumnya yang lama. Enaaak. Langsung gue beli se-album di iTunes. Pas gue google, nggak banyak artikel tentang Damar dan inspirasi musiknya. Sayang aja.”

“Iya sih. Gue juga baru nyadar Damar jarang terekspos.”

“Makanya. It’s a good opportunity for us. Lo yang wawancara ya, Fey?”

“Bisa diatur.”

“Katanya lo sama dia temenan ya?”

“Semacam itulah. Tapi udah lumayan lama juga ga ketemu atau kontak.”

“Temen kuliah apa SMA sih?”

“Bukan dua-duanya.”

“Mantan?”

“Nope.”

“Jadi?”

“Dulu orangtua gue dan orangtua dia punya rencana mau menjodohkan kami.”

“MasyaAllah, yang bener?”

“Iya, Mbak. Dan gagal total. Gue sama Damar tuh jatuhnya kayaknya bromance prokem saik bais, hahahaha. Tapi jadinya tetep temenan sampe sekarang.”

“Syukurlah.”

“Mbak Desy jawabannya kayak scripted gitu. ‘Syukurlah’ hahahahaha.”

“Oh udah pinter ya, ngetawain orang tua.”

“Bye Mbak Desy see you next week!”

***

“Ayolah Masbru.”

“Kenapa harus aku sih, Fey? Masih banyak musisi tanah air yang lebih tenar dan layak liput.”

“Masbru plis. Special request dari editor gue nih.”

“Dusta.”

“Beneran. Mbak Desy yang nyuruh. Bisa kan masbru, sore ini? Di rumah lo aja, gausah mandi jug a gapapa.”

“Harus mandi lah. Masak mau masuk majalah nggak mandi. Kenak marah mamak nanti.”

“Soalnya gue lagi males bawa kamera. Nanti gue minta foto stok aja, yang paling kece, kalau bisa kualitas studio.”

“Manalah awak punya. Terakhir kali ke studio foto ya pas pemotretan cover album Hilang Arah. Entah jaman kapan.”

“Yaudah iya, nanti dipotret. Dandan ya masbru. Yang kece. Catut jambulmu, semir sepatumu.”

“Siap, Jenderal!”

***

“Jaaaadi, gue adalah wartawan dan masbru adalah narasumber. Percakapan kita akan direkam; kalau sekiranya masbru keberatan sama pertanyaan yang gue ajukan, masbru boleh minta skip. Tapi kalau dijawab, berarti masbru bersetuju bahwa jawaban itu boleh dimuat dalam artikel.”

“Repot kali, Fey. Skip semua aja nggak boleh ya?”

“Yaudah gue pulang. Kbye.”

“Becanda ah, jangan lah merajuk nanti hilang cantiknya.”

“Hehehehehe.”

“Is. Dibilang cantik langsung riang gembira.”

“Damar ini kapan mau mulainya nanti keburu azan maghrib yassalaaam.”

“Fey tapi sebelum kita mulai wawancara.. ada berita besar yang ingin kusampaikan.”

“Masbru.. jangan serius banget gitu dong gue jadi takut. Ada apa?”

“Aku kayaknya mau pensiun dari industri ini.”

“Ah ngetroll nih.”

“Sungguh.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Entahlah. Kayaknya jalanku bukan di sini.”

“Kok ngomongnya gitu sih masbru? Emang bener-bener nggak ada rencana mau nerusin bermusik ya? Selama ini sama sekali nggak bikin lagu?”

“Bikin sih, sekitar lima-enam lagu. Tapi itu dia masalahnya, Fey. Kapasitas menciptaku udah nggak sama dengan yang dulu. Lagunya jelek semua. Kayaknya karena udah kelamaan vakum.”

“Ga mungkin. Mana sini, ada demonya nggak? Biar gue dengerin.”

“Kutarok mana ya? Sebentar dicari dulu. Silakan diminum tehnya.”

“Oh, jadi ini teh? Kok warnanya kuning gini?”

“Itu teh celup, pas bikin tadi airnya kurang panas. Harap mahfum.”

***

“These are gold!”

“Udahlah Fey, nggak usah menghibur.”

“Sumpah masbru. Bagus-bagus banget.”

“Kalau aku yang dengar kok kayak tahapa-hapa gitu ya?”

“Hmmm.”

“Hmmmm.”

“Gue punya satu teori. Jadi sebenarnya, kemampuan masbru nggak pernah hilang, tetep di situ walaupun udah cukup lama vakum. Tapi seiring dengan semakin banyaknya musik bagus yang masbru dengar, semakin berkualitas artis-artis yang masbru idolai, standar masbru terhadap musik jadi makin tinggi. Now your music doesn’t even reach your own standards anymore. It sounds bad but it could be good. Artinya l o berkembang masbru!”

“Oh ya?”

“Ya. Masbru harus percaya suatu saat akan bisa mencapai standar bermusik yang masbru tetapkan sebagai ideal. Tapi untuk sampai ke tahap itu pasti butuh proses, dan proses selalu butuh waktu. I believe you’ll be there someday. Asal nggak berhenti belajar dan nggak berhenti melakukan apa yang masbru lakukan sekarang; bermusik dan mencipta. Jangan nyerah dong. Jangan nyerah sekarang.”

“Fey why you so kind.”

“Gimana ya? Bawaan lahir sih. Gue sedari orok memang sudah bersifat baik.”

“Yooo lah.”

“Nggak jadi pensiun dong ya masbru?”

“Sebenarnya ada satu masalah lagi.”

“Apakah itu?”

“Laguku nggak berbakat populer, Fey. Ramuannya bukan untuk orang banyak.”

“Aha! Mungkin sudah saatnya masbru mendengar cerita tentang coke dan pepsi.”

“Kenapa dengan mereka?”

“Alkisah, suatu ketika dulu, setiap kali coke dan pepsi ngadain blind test; itu lho, tes yang warga awam matanya ditutup trus disuruh minum tanpa melihat; sebagian besar dari mereka pasti bilang pepsi lebih enak dari coke. Coke pun frustasi dan memutuskan untuk menarik seluruh stok mereka dari pasaran untuk sementara waktu, sampe mereka nemuin formulasi rasa baru yang bisa ngalahin enaknya pepsi.”

“Wow menegangkan.”

“Mendengar berita itu, fans berat coke kontan marah dan kecewa. Salah seorang dari mereka diwawancara di tivi dan ngaku bahwa begitu dia denger kabar coke mau ditarik dari peredaran, dia langsung ngeborong coke berkarton-karton untuk distok di garasi rumahnya.”

“Dia pasti orang kaya.”

“Moral of the story, coke lupa sama satu faktor yang juga bisa jadi indikator kesuksesan produknya: loyalitas. Kesetiaan orang-orang yang merasa punya keterikatan emosi atau apalah, dengan produk mereka.”

“…”

“Your music is not for everyone, perhaps there’s some truth to it. But you have a fair share of listeners; your fans, your crowd. Orang-orang yang setia menunggu rilis terbaru masbru. Yang masih request lagu masbru di radio. Yang ngerasa hidupnya lebih cerah karena dengerin lagu masbru pagi-pagi pas berangkat kerja. Yang beli album di iTunes atau yang rela nabung supaya bisa beli cd asli padahal bisa aja donlot 4shared. Kalau masbru udah kehabisan bensin untuk berkarya atas nama ekspresi diri, pikirkanlah mereka, para pendengar.”

“Fey…………………..”

“Ya?”

“That is one hell of a speech! Mau nangis rasanya. Makasih ya Fey.”

“Kembali.”

“Udah kuputuskan. Aku batal pensiun.”

“Gitu dong.”

“Rugi ya. Kalau kita nggak rebel dan perjodohan kemaren berjalan sesuai rencana, Fey past i udah jadi istriku.”

“Sudahlah masbru. Ga baik berandai-andai. Kita tuh emang mentoknya jadi kayak gini aja. Sohib saik bais.”

“Benar juga. But if there’s anything I could do for you Fey, anything at all.. just tell me.”

“Teh.”

“What?”

“Bikinin teh baru dong. Yang ini rasanya tahapa-hapa.”

interupsi

suatu hari ada pertanyaan singgah di kotak surat @askkinsyu, 

“apa/siapa yang menginspirasimu?”

banyak sih sebenarnya. tapi yang paling besar pengaruhnya kepada semangat berkarya cuma dua: orang-orang yang tetap menjejak bumi saat gapaiannya mengangkasa, dan para pendidik; yang hidupnya didedikasikan untuk kegiatan tukar-menukar ilmu.

sekalian ngomongin guru boleh ya.

saya kalau ketemu guru-guru bawaannya terharu. sayang banget huhu gangerti. saya kan anaknya awkward, jadi biasanya pas baru-baru masuk sekolah, the first few friends i made were.. the teachers (instead of fellow students).

beliau-beliau itu jasanya banyak; udahlah nransfer ilmu, bagi-bagi pengetahuan umum dan pengalaman hidup, tidak jarang juga memberi tantangan dan rintangan agar kita semakin tangguh HAHAHA,

dan kadang, they believe in us more than we believe in ourselves.

ngerasa nggak sih, bahwa selain orangtua dan keluarga, oran g yang beneran bangga dan ikut seneng kalau kita berhasil itu guru?

nggak ada unsur lain di situ. nggak diam-diam iri, nggak ngerasa tersaingi, nggak jadi “da aku mah apa atuh”. mereka ya bersyukur, murid yang pernah dididiknya berkembang.

guru-guru juga biasanya hidup dengan merasa cukup. apalagi yang baik hati dan ngajarnya ikhlas. ga punya banyak, tapi bahagia.

saya rasa itu berkah ilmu dan perwujudan doa. doa dari murid-murid yang setelah lulus jarang nongol tapi masih ngedoain selesai sholat; supaya bapak dan ibu guru murah rezeki dan sehat selalu.

sebelas:sebelas - Sembilan*

Dear Nine,

kalian yang putus kenapa aku yang patah hati?

Sincerely,

an OT9 stan

sebelas:sebelas - Angkot*

“Pleeeaaaaseeee.”

Pipo menatapku dengan sorot mata penuh harap.

“We need to be there by two, Pipo. Let’s just flag a cab.”

“Pleeeeaaaaaaseeeee.”

Aku tahu kita harus memuliakan tamu. Lagipula sebetulnya tidak ada yang salah dengan permintaan Pipo. Yang salah itu momennya.

Kami akan menghadiri acara perpisahan murid pertukaran dari Jepang dan Filipina di gedung hotel bintang empat. Pipo rapi jali dengan tuxedonya, dan aku anggun dibalut kebaya. Besar resiko kami akan jadi tontonan rakyat, atau yang lebih apes, dikomentari iseng oleh supir, 

“Mo kawin lari neng?" 

Aku terpaksa menggeleng demi kemaslahatan kami berdua.

Pipo tak menyerah. Ia mengatupkan kedua tangan untuk kesan dramatis, sekaligus mempertegas bahwa ia sedang memohon.

"I’m going back tomorrow morning. Tidak kesihan kamu pada aku? Lima bulan tinggal Jakarta tidak nai k mobil itu satu pun kali.”

Pipo dan pipinya yang tumpah, badannya yang gempal, dan Bahasa Indonesianya yang tak karuan. Aku gemas.

“You sure? It’s gonna be hella hot and humid inside.”

“A hundred percent sure. I bet it’s gonna be fun. And breezy. Kan jendelanya terbuka dong?”

Sudah ratusan kali aku coba mengingatkannya, dong itu tidak bisa sembarangan dibubuhkan di belakang kalimat, tapi ia tidak pernah ingat. Kurasa bagi Pipo belajar kosakata saja sudah cukup memusingkan.

“Ya, Tasha? I promise when you come to Manila next year, I’ll bring you on a special city tour with Jeepney.”

Aku ingin nangis mendengar janjinya. Pipo tamu yang paling enggan merepotkan. Ia ramah, tulus dan ringan tangan. Selama tinggal di rumah, ia sudah menjalin persahabatan dengan ayah dan ibuku –orangtua asuhnya–, eyang dari sebelah ibu, nenek dari sebelah ayah, dua asisten ibu di rumah, dan mamang yang sering datang mengambil sumbangan koran bekas. 

“Alright.”

Pipo berjoget kegirangan. “YOU’RE THE BEST!”

Aku membekalinya angkot 101. 

“We are going to share seat and space so be considerate when other people are coming in. The angkot will make several stops in random spots so it’s gonna take a while before we reach our destination. And please take care of your personal belongings, especially phone and wallet.”

“Mengerti! Boleh ambil gambar?”

“Yes, but no selfie. Just, no.”

“Okay!”

“Seneng amat sih, Pip. Ini kan cuma angkot.”

“Bukan. Ini observasi jalanan. Mengenal kota dan penduduknya dari sudut pandang pelaku utama.”

Aku terhenyak.

Dia…….. nyolong kalimat dari buku teks mana pula?

“ITU ANGKOT! ANGKOT!” Pipo menunjuk-nunjuk penuh semangat. Biasanya dia kumarahi; pipo pls behave; tapi tak apalah, sekali ini. 

Hidupku setelah ia terbang besok pagi pasti mendadak sepi.

sebelas:sebelas - Percaya*

Laura memang ngeyel; susah percaya sebelum dengar sendiri, baca sendiri, rasa sendiri.

Makanya ia habis-habisan berargumen ketika sahabatnya, Arimbi, mengingatkannya agar lebih waspada pada seniman; terutama yang belum punya pegangan, atau arah tuju.

“Ah, stereotype!” bantahnya penuh marah. “Stereotype sesungguhnya adalah bentuk ketidakadilan, Mbi. Menilai itu harusnya dari individunya; dari kelakuan masing-masing. Bukan dari profesi, suku, atau golongan.”

Arimbi nyengir lebar. Dasar bocah ngeyel lagi mabok cinta, entah gimana harus nasehatinnya. “Ya pokoknya hati-hati aja,” ujarnya ringan.

“Emangnya kenapa sih? Kenapa dengan seniman?”

“They are complicated.”

“Oh ya? So far, Ranindra itu manusia paling males ribet yang pernah kukenal.”

Dia juga sopan. Spontan. Menyenangkan. Tidak pernah ada hari bosan. Bagian itu Laura simpan untuk koleksi pribadi. Ia enggan membaginya ke siapa-siapa. Cheesy.

“Ribetnya di kepala, ya mana keliatan,” celetuk Arimbi.

“How do you know?”

“I’m an artist, baby girl. Aku salah tadi ngomongnya. Seharusnya bukan they, tapi we. We are bunch of complicated human beings. Our head is a huge mess.”

"Nope. Not buying it. Menurutku, itu generalisasi.”

Arimbi menggeleng pasrah.

Ngeyel.

***

“Sebaiknya kita nggak usah bertemu lagi.”

“Hah? Kenapa…”

“Kamu terlalu berbahaya, untuk akal sehat saya.”

Dangerous for my sanity. Sanjungan paling manis sekaligus pahit yang bisa diumbar seorang laki-laki. 

Setelah mengatakan itu, Ranindra sungguh-sungguh menghilang dari hadapan Laura. Berkali-kali purnama, ia tidak juga kembali.

Dalam percakapan tempo hari, Arimbi lupa bilang bahwa seniman bisa berkal i lipat lebih rumit jika sudah menyangkut hal hati.

Tapi toh, Laura tak akan mendengarkan.

sebelas:sebelas - Raut*

Lelaki itu basah lencun; tapi tak dirasakannya dingin. Ia terduduk di meja makan. Ingatan datang dalam kelebat. Lampu merah. Penjual koran. Guyuran hujan. Tumpukan kertas yang kuyup; tak akan laku dijual.

Bagaimana caranya melupakan raut kecewa di wajah bocah kecil yang kehilangan modal makan malamnya?

mau ya, ngasih saya satu tema, judul, kata atau huruf yang samasekali acak untuk diolah jadi karya?

akan saya coba kerjakan satu setiap pukul 11 malam, untuk latihan sambil senang-senang.

apakah jadinya pendek atau panjang, akan sangat tergantung suplai inspirasi hari itu. tapi saya mau nulis. sesedikit apapun, saya mau nulis.

tempat paling aman di seluruh jagat raya: dekapan ayah.

(Source: simply-divine-creation)