Enfants vêtements ensembles 2018 nouvelles Filles sport costume d'été Chauve Souris chemise à manches courtes + Harem pantalon enfants fille vêtements costumes 2 pcs/ensemble

sports fun, leggings ballerine

Les Points Diamants

Sport soutien-gorge sexy. 551096110256. Material: : Yoga pantalon drap. Yoga top bras. Wielerkleding heren sets zomer /tenue cycliste proPro 80% polyester and 20% lycraPush up zipper sport bra. 3d gel padded. Pad soutien-gorge. It's pink style. 

Couche De Base Haut

Black,white,grey,blue,navy blue. Yoga bra gender: Feature(2)	: 8-16 degrees celsius ( not thick ). Yoga crop tops. Quanlity: Hommes vêtements de formation. M-112. Sports windcoat funtion: Waist cincher: Boy sets. Lycra legging. Sports leggings. Couple vêtements. 86% polyester 14% spandex. Ensemble anneaux pour les femmes. Red/blue/grey. Sports crop top. 

Pantalon Disco

Women yoga pants fitness leggings. 9999999. Running,bodybuilding, gym, jogging, yoga. Vélo hommes jersey. Iun20170320. Quick drying fitness pants: Sweat wicking, quick dry. Yocndux. Pilate pantalon. Windproof bicycle pants. Cup shape: Soutien-gorge large. Female wrap chest. 

Costumes Hommes De Sport

P1891y. Strap type: Matériel de yoga. Other: Spring and autumn. Yoga legging. Class a. Fx: jersey s,bib shorts m. Wholesale sport pantalon. 83%polyester+17%spandex. Polyester 88%,spandex 12%. Punk leggings. Yqx-w8c-3. 


ed:tumblelog" /><"http://namasayakinsi.tumblr.com/page/8" />

when you find people that speak in the same wavelength as yours, keep them around. because while small talks tire you out, real conversations heal.

—sepuluh/365.

Fiksi punya banyak fungsi. Tidak nyata, tapi menggambarkan realita. Hasil rekayasa, tapi kadang lebih jujur dari berita. Dibatasi jumlah kata, tapi memfasilitasi kebebasan.

—lima/365.

sebelas:sebelas - Pendengar*

“Damar? Untuk Profil Musisi bulan Mei? Yakin, Mbak? YAKIN?”

“Kenapa? Damar kan good-looking.”

“Masa alasannya karena ganteng doang…”

“Hahaha engga kok. Dia kan udah lama ga ada kabar. Siapatau lagi ngerjain album baru.”

“Mencurigakan…”

“Ini lho. Kemaren gue denger di radio salah satu lagu dia dari albumnya yang lama. Enaaak. Langsung gue beli se-album di iTunes. Pas gue google, nggak banyak artikel tentang Damar dan inspirasi musiknya. Sayang aja.”

“Iya sih. Gue juga baru nyadar Damar jarang terekspos.”

“Makanya. It’s a good opportunity for us. Lo yang wawancara ya, Fey?”

“Bisa diatur.”

“Katanya lo sama dia temenan ya?”

“Semacam itulah. Tapi udah lumayan lama juga ga ketemu atau kontak.”

“Temen kuliah apa SMA sih?”

“Bukan dua-duanya.”

“Mantan?”

“Nope.”

“Jadi?”

“Dulu orangtua gue dan orangtua dia punya rencana mau menjodohkan kami.”

“MasyaAllah, yang bener?”

“Iya, Mbak. Dan gagal total. Gue sama Damar tuh jatuhnya kayaknya bromance prokem saik bais, hahahaha. Tapi jadinya tetep temenan sampe sekarang.”

“Syukurlah.”

“Mbak Desy jawabannya kayak scripted gitu. ‘Syukurlah’ hahahahaha.”

“Oh udah pinter ya, ngetawain orang tua.”

“Bye Mbak Desy see you next week!”

***

“Ayolah Masbru.”

“Kenapa harus aku sih, Fey? Masih banyak musisi tanah air yang lebih tenar dan layak liput.”

“Masbru plis. Special request dari editor gue nih.”

“Dusta.”

“Beneran. Mbak Desy yang nyuruh. Bisa kan masbru, sore ini? Di rumah lo aja, gausah mandi jug a gapapa.”

“Harus mandi lah. Masak mau masuk majalah nggak mandi. Kenak marah mamak nanti.”

“Soalnya gue lagi males bawa kamera. Nanti gue minta foto stok aja, yang paling kece, kalau bisa kualitas studio.”

“Manalah awak punya. Terakhir kali ke studio foto ya pas pemotretan cover album Hilang Arah. Entah jaman kapan.”

“Yaudah iya, nanti dipotret. Dandan ya masbru. Yang kece. Catut jambulmu, semir sepatumu.”

“Siap, Jenderal!”

***

“Jaaaadi, gue adalah wartawan dan masbru adalah narasumber. Percakapan kita akan direkam; kalau sekiranya masbru keberatan sama pertanyaan yang gue ajukan, masbru boleh minta skip. Tapi kalau dijawab, berarti masbru bersetuju bahwa jawaban itu boleh dimuat dalam artikel.”

“Repot kali, Fey. Skip semua aja nggak boleh ya?”

“Yaudah gue pulang. Kbye.”

“Becanda ah, jangan lah merajuk nanti hilang cantiknya.”

“Hehehehehe.”

“Is. Dibilang cantik langsung riang gembira.”

“Damar ini kapan mau mulainya nanti keburu azan maghrib yassalaaam.”

“Fey tapi sebelum kita mulai wawancara.. ada berita besar yang ingin kusampaikan.”

“Masbru.. jangan serius banget gitu dong gue jadi takut. Ada apa?”

“Aku kayaknya mau pensiun dari industri ini.”

“Ah ngetroll nih.”

“Sungguh.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Entahlah. Kayaknya jalanku bukan di sini.”

“Kok ngomongnya gitu sih masbru? Emang bener-bener nggak ada rencana mau nerusin bermusik ya? Selama ini sama sekali nggak bikin lagu?”

“Bikin sih, sekitar lima-enam lagu. Tapi itu dia masalahnya, Fey. Kapasitas menciptaku udah nggak sama dengan yang dulu. Lagunya jelek semua. Kayaknya karena udah kelamaan vakum.”

“Ga mungkin. Mana sini, ada demonya nggak? Biar gue dengerin.”

“Kutarok mana ya? Sebentar dicari dulu. Silakan diminum tehnya.”

“Oh, jadi ini teh? Kok warnanya kuning gini?”

“Itu teh celup, pas bikin tadi airnya kurang panas. Harap mahfum.”

***

“These are gold!”

“Udahlah Fey, nggak usah menghibur.”

“Sumpah masbru. Bagus-bagus banget.”

“Kalau aku yang dengar kok kayak tahapa-hapa gitu ya?”

“Hmmm.”

“Hmmmm.”

“Gue punya satu teori. Jadi sebenarnya, kemampuan masbru nggak pernah hilang, tetep di situ walaupun udah cukup lama vakum. Tapi seiring dengan semakin banyaknya musik bagus yang masbru dengar, semakin berkualitas artis-artis yang masbru idolai, standar masbru terhadap musik jadi makin tinggi. Now your music doesn’t even reach your own standards anymore. It sounds bad but it could be good. Artinya l o berkembang masbru!”

“Oh ya?”

“Ya. Masbru harus percaya suatu saat akan bisa mencapai standar bermusik yang masbru tetapkan sebagai ideal. Tapi untuk sampai ke tahap itu pasti butuh proses, dan proses selalu butuh waktu. I believe you’ll be there someday. Asal nggak berhenti belajar dan nggak berhenti melakukan apa yang masbru lakukan sekarang; bermusik dan mencipta. Jangan nyerah dong. Jangan nyerah sekarang.”

“Fey why you so kind.”

“Gimana ya? Bawaan lahir sih. Gue sedari orok memang sudah bersifat baik.”

“Yooo lah.”

“Nggak jadi pensiun dong ya masbru?”

“Sebenarnya ada satu masalah lagi.”

“Apakah itu?”

“Laguku nggak berbakat populer, Fey. Ramuannya bukan untuk orang banyak.”

“Aha! Mungkin sudah saatnya masbru mendengar cerita tentang coke dan pepsi.”

“Kenapa dengan mereka?”

“Alkisah, suatu ketika dulu, setiap kali coke dan pepsi ngadain blind test; itu lho, tes yang warga awam matanya ditutup trus disuruh minum tanpa melihat; sebagian besar dari mereka pasti bilang pepsi lebih enak dari coke. Coke pun frustasi dan memutuskan untuk menarik seluruh stok mereka dari pasaran untuk sementara waktu, sampe mereka nemuin formulasi rasa baru yang bisa ngalahin enaknya pepsi.”

“Wow menegangkan.”

“Mendengar berita itu, fans berat coke kontan marah dan kecewa. Salah seorang dari mereka diwawancara di tivi dan ngaku bahwa begitu dia denger kabar coke mau ditarik dari peredaran, dia langsung ngeborong coke berkarton-karton untuk distok di garasi rumahnya.”

“Dia pasti orang kaya.”

“Moral of the story, coke lupa sama satu faktor yang juga bisa jadi indikator kesuksesan produknya: loyalitas. Kesetiaan orang-orang yang merasa punya keterikatan emosi atau apalah, dengan produk mereka.”

“…”

“Your music is not for everyone, perhaps there’s some truth to it. But you have a fair share of listeners; your fans, your crowd. Orang-orang yang setia menunggu rilis terbaru masbru. Yang masih request lagu masbru di radio. Yang ngerasa hidupnya lebih cerah karena dengerin lagu masbru pagi-pagi pas berangkat kerja. Yang beli album di iTunes atau yang rela nabung supaya bisa beli cd asli padahal bisa aja donlot 4shared. Kalau masbru udah kehabisan bensin untuk berkarya atas nama ekspresi diri, pikirkanlah mereka, para pendengar.”

“Fey…………………..”

“Ya?”

“That is one hell of a speech! Mau nangis rasanya. Makasih ya Fey.”

“Kembali.”

“Udah kuputuskan. Aku batal pensiun.”

“Gitu dong.”

“Rugi ya. Kalau kita nggak rebel dan perjodohan kemaren berjalan sesuai rencana, Fey past i udah jadi istriku.”

“Sudahlah masbru. Ga baik berandai-andai. Kita tuh emang mentoknya jadi kayak gini aja. Sohib saik bais.”

“Benar juga. But if there’s anything I could do for you Fey, anything at all.. just tell me.”

“Teh.”

“What?”

“Bikinin teh baru dong. Yang ini rasanya tahapa-hapa.”

interupsi

suatu hari ada pertanyaan singgah di kotak surat @askkinsyu, 

“apa/siapa yang menginspirasimu?”

banyak sih sebenarnya. tapi yang paling besar pengaruhnya kepada semangat berkarya cuma dua: orang-orang yang tetap menjejak bumi saat gapaiannya mengangkasa, dan para pendidik; yang hidupnya didedikasikan untuk kegiatan tukar-menukar ilmu.

sekalian ngomongin guru boleh ya.

saya kalau ketemu guru-guru bawaannya terharu. sayang banget huhu gangerti. saya kan anaknya awkward, jadi biasanya pas baru-baru masuk sekolah, the first few friends i made were.. the teachers (instead of fellow students).

beliau-beliau itu jasanya banyak; udahlah nransfer ilmu, bagi-bagi pengetahuan umum dan pengalaman hidup, tidak jarang juga memberi tantangan dan rintangan agar kita semakin tangguh HAHAHA,

dan kadang, they believe in us more than we believe in ourselves.

ngerasa nggak sih, bahwa selain orangtua dan keluarga, oran g yang beneran bangga dan ikut seneng kalau kita berhasil itu guru?

nggak ada unsur lain di situ. nggak diam-diam iri, nggak ngerasa tersaingi, nggak jadi “da aku mah apa atuh”. mereka ya bersyukur, murid yang pernah dididiknya berkembang.

guru-guru juga biasanya hidup dengan merasa cukup. apalagi yang baik hati dan ngajarnya ikhlas. ga punya banyak, tapi bahagia.

saya rasa itu berkah ilmu dan perwujudan doa. doa dari murid-murid yang setelah lulus jarang nongol tapi masih ngedoain selesai sholat; supaya bapak dan ibu guru murah rezeki dan sehat selalu.

sebelas:sebelas - Sembilan*

Dear Nine,

kalian yang putus kenapa aku yang patah hati?

Sincerely,

an OT9 stan

sebelas:sebelas - Angkot*

“Pleeeaaaaseeee.”

Pipo menatapku dengan sorot mata penuh harap.

“We need to be there by two, Pipo. Let’s just flag a cab.”

“Pleeeeaaaaaaseeeee.”

Aku tahu kita harus memuliakan tamu. Lagipula sebetulnya tidak ada yang salah dengan permintaan Pipo. Yang salah itu momennya.

Kami akan menghadiri acara perpisahan murid pertukaran dari Jepang dan Filipina di gedung hotel bintang empat. Pipo rapi jali dengan tuxedonya, dan aku anggun dibalut kebaya. Besar resiko kami akan jadi tontonan rakyat, atau yang lebih apes, dikomentari iseng oleh supir, 

“Mo kawin lari neng?" 

Aku terpaksa menggeleng demi kemaslahatan kami berdua.

Pipo tak menyerah. Ia mengatupkan kedua tangan untuk kesan dramatis, sekaligus mempertegas bahwa ia sedang memohon.

"I’m going back tomorrow morning. Tidak kesihan kamu pada aku? Lima bulan tinggal Jakarta tidak nai k mobil itu satu pun kali.”

Pipo dan pipinya yang tumpah, badannya yang gempal, dan Bahasa Indonesianya yang tak karuan. Aku gemas.

“You sure? It’s gonna be hella hot and humid inside.”

“A hundred percent sure. I bet it’s gonna be fun. And breezy. Kan jendelanya terbuka dong?”

Sudah ratusan kali aku coba mengingatkannya, dong itu tidak bisa sembarangan dibubuhkan di belakang kalimat, tapi ia tidak pernah ingat. Kurasa bagi Pipo belajar kosakata saja sudah cukup memusingkan.

“Ya, Tasha? I promise when you come to Manila next year, I’ll bring you on a special city tour with Jeepney.”

Aku ingin nangis mendengar janjinya. Pipo tamu yang paling enggan merepotkan. Ia ramah, tulus dan ringan tangan. Selama tinggal di rumah, ia sudah menjalin persahabatan dengan ayah dan ibuku –orangtua asuhnya–, eyang dari sebelah ibu, nenek dari sebelah ayah, dua asisten ibu di rumah, dan mamang yang sering datang mengambil sumbangan koran bekas. 

“Alright.”

Pipo berjoget kegirangan. “YOU’RE THE BEST!”

Aku membekalinya angkot 101. 

“We are going to share seat and space so be considerate when other people are coming in. The angkot will make several stops in random spots so it’s gonna take a while before we reach our destination. And please take care of your personal belongings, especially phone and wallet.”

“Mengerti! Boleh ambil gambar?”

“Yes, but no selfie. Just, no.”

“Okay!”

“Seneng amat sih, Pip. Ini kan cuma angkot.”

“Bukan. Ini observasi jalanan. Mengenal kota dan penduduknya dari sudut pandang pelaku utama.”

Aku terhenyak.

Dia…….. nyolong kalimat dari buku teks mana pula?

“ITU ANGKOT! ANGKOT!” Pipo menunjuk-nunjuk penuh semangat. Biasanya dia kumarahi; pipo pls behave; tapi tak apalah, sekali ini. 

Hidupku setelah ia terbang besok pagi pasti mendadak sepi.

sebelas:sebelas - Percaya*

Laura memang ngeyel; susah percaya sebelum dengar sendiri, baca sendiri, rasa sendiri.

Makanya ia habis-habisan berargumen ketika sahabatnya, Arimbi, mengingatkannya agar lebih waspada pada seniman; terutama yang belum punya pegangan, atau arah tuju.

“Ah, stereotype!” bantahnya penuh marah. “Stereotype sesungguhnya adalah bentuk ketidakadilan, Mbi. Menilai itu harusnya dari individunya; dari kelakuan masing-masing. Bukan dari profesi, suku, atau golongan.”

Arimbi nyengir lebar. Dasar bocah ngeyel lagi mabok cinta, entah gimana harus nasehatinnya. “Ya pokoknya hati-hati aja,” ujarnya ringan.

“Emangnya kenapa sih? Kenapa dengan seniman?”

“They are complicated.”

“Oh ya? So far, Ranindra itu manusia paling males ribet yang pernah kukenal.”

Dia juga sopan. Spontan. Menyenangkan. Tidak pernah ada hari bosan. Bagian itu Laura simpan untuk koleksi pribadi. Ia enggan membaginya ke siapa-siapa. Cheesy.

“Ribetnya di kepala, ya mana keliatan,” celetuk Arimbi.

“How do you know?”

“I’m an artist, baby girl. Aku salah tadi ngomongnya. Seharusnya bukan they, tapi we. We are bunch of complicated human beings. Our head is a huge mess.”

"Nope. Not buying it. Menurutku, itu generalisasi.”

Arimbi menggeleng pasrah.

Ngeyel.

***

“Sebaiknya kita nggak usah bertemu lagi.”

“Hah? Kenapa…”

“Kamu terlalu berbahaya, untuk akal sehat saya.”

Dangerous for my sanity. Sanjungan paling manis sekaligus pahit yang bisa diumbar seorang laki-laki. 

Setelah mengatakan itu, Ranindra sungguh-sungguh menghilang dari hadapan Laura. Berkali-kali purnama, ia tidak juga kembali.

Dalam percakapan tempo hari, Arimbi lupa bilang bahwa seniman bisa berkal i lipat lebih rumit jika sudah menyangkut hal hati.

Tapi toh, Laura tak akan mendengarkan.

sebelas:sebelas - Raut*

Lelaki itu basah lencun; tapi tak dirasakannya dingin. Ia terduduk di meja makan. Ingatan datang dalam kelebat. Lampu merah. Penjual koran. Guyuran hujan. Tumpukan kertas yang kuyup; tak akan laku dijual.

Bagaimana caranya melupakan raut kecewa di wajah bocah kecil yang kehilangan modal makan malamnya?

mau ya, ngasih saya satu tema, judul, kata atau huruf yang samasekali acak untuk diolah jadi karya?

akan saya coba kerjakan satu setiap pukul 11 malam, untuk latihan sambil senang-senang.

apakah jadinya pendek atau panjang, akan sangat tergantung suplai inspirasi hari itu. tapi saya mau nulis. sesedikit apapun, saya mau nulis.

tempat paling aman di seluruh jagat raya: dekapan ayah.

(Source: simply-divine-creation)